Jumat, 22 Mei 2009

Pengganti Yang Jelek

Pengganti Yang Jelek

Oleh : H. Zulhendri ZK IS

Disampaikan di Masjid Iman Tgl 11 Juli 2008 M/ 08 Rajab 1429 H

Innal hamdalillah, nahmaduhu wanastainuhu wanastagfir, wanauzubillahi min syururi anfusina wamin syaiati a’malina. Mayyahdillah fala mudhillalah waman yudhlil fala hadiyalah. Asyahaduan la ilaha illa Allah, wa asyhaduanna Muhamman ‘Abduhu warasuluh la nabiya ba’da, amma ba’du. Allahumma salli ala Muhammad wa ‘ala ali Muhammad ‘Ibadallah, ittaqullaha haqqa tuqatih wala tamutunna illa waantum muslimun,

Firman Allah dalam surat Maryam (19) : 59

فَخَلَفَ مِنْ بَعْدِهِمْ خَلْفٌ أَضَاعُوا الصَّلَاةَ وَاتَّبَعُوا الشَّهَوَاتِ فَسَوْفَ يَلْقَوْنَ غَيًّا(59)

Artinya; Maka datanglah sesudah mereka generasi pengganti yang jelek yang menyia-nyiakan shalat dan memperturutkan hawa nafsunya, maka mereka kelak akan menemui kesesatan (QS. Maryam : 59)

Khatib mengingatkan kita semua untuk selalu benar dalam agama kita ini dan benar-benar menjadi orang yang bertaqwa. Bertaqwa denganartian memang kita amalkan seluruh kandungan al-Qur’an, semuanya kita amalkan Insya Allah dan kapanpun Malaikat menjemput kita insya Allah kita berada dalam keadaan beriman.

Dalam ayat di atas Allah mengingatkan kita semua, bahwa bakal datang pengganti kita, pengganti yang sesat, pengganti yang tidak shalat (kalaupun shalat tapi tidak sempurna), disini dikatakan menyia-nyiakan shalat kemudian memperturutkan hawa nafsunya, itu pengganti kita. Dan kita lihat, kenyataan sekarang ini apa yang di khawatirkan al-Qur’an ini telah terjadi.

Kita lihat jelas fenomena ketika anak-anak kita tamat UAN, yang lulus UAN kita lihat cara mereka mensyukurinya, ada yang kebut-kebutan, SMP maupun SMA, kemudian perilakunya ketika tidak lulus, tidak lulus saja mereka, sudah begitu caranya menyikapinya, ada yang stress, pingsan, begitulah cara mereka mengahadapinya. Kemudian pergaulan kita lihat sekarang ini betul-betul rusak, di depan mata kita, di ranah minang ini yang “adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah”, mudah saja kita melihat muda-muda yang belum bersuami istri sudah seperti orang yang menikah saja.

Kemudian shalat, ketika ada suara azan di mesjid, tapi seolah-olah azan itu bukan untuk dia, itulah yang kita lihat sekarang ini. Begitu rusaknya generasi tersebut. Berarti generasi itu lanjutan dari generasi sebelumnya.

Kalau kita lihat sejarah, generasi sebelumnya itu cukup sangat baik, cukup bagus tapi bisa menghasilkan anak-anak yang seperti ini, bagaimana pula anak-anak ini nanti yang akan berkeluarga dan dia mempunyai anak pula, bagaimana potret yang akan kita lihat di masa yang akan datang dan itu tugas kita.

Allah katakan disini di ayat 60 “kalau kita tidak sadar dan tidak bertobat, maka Allah tidak akan mengampunkan kita, maka dalam kesempatan ini khatib ingin menghimbau dan mengajak kita semua untuk membicarakan ini agar kita lebih berhati-hati, apa kesalahan-kesalahan yang kita lakukan sehingga temuan-temuan yang demikian itu ada di depan kita.

Apa yang salah? Yang salah adalah :

Pertama : Pendidikan di sekolah Pendidikan di sekolah setahu kita mengutamakan mutu pendidikan, matematika, fisika, kimia, bahasa inggris tanpa memperdulikan akhlaknya sehingga mudah saja berbaur laki-laki dan perempuan dalam satu sekolah, itu tidak bisa kita hindari karena memang kita tidak memiliki pendidikan yang seperti itu, pendidikan kita pendidikan yang konfensional caranya begaimana? Memang kita tanamkan betul kepada anak laki-laki kita dan anak perempuan kita bahwa dia ke sekolah untuk belajar bukan untuk mencari jodoh, ada atau tidak kita menyampaikan itu kepada anak-anak kita “kalian ke sekolah menuntut ilmu nak, bukan mencari jodoh” sehingga mereka lebih mementingkan pergaulannya daripada pendidikannya di sekolah, sehingga ketika dia berpisah dengan kawannya atau lawan jenisnya tadi bisa-bisa dia bunuh diri, itu belum sebagai suami istri yang sah tapi hanya sebagai teman berpisah bisa dia bunuh diri, itulah potret yang kita lihat sekarang dari anak-anak kita.

Bagaimana pula dia yang menjadi kepala rumah tangga dan dia yang punya anak, maka pada kesempatan ini khatib berpesan ambil peduli lah kita, ambil bahagianlah kita dalam masalah ini, kita ingatkan anak kita apa tujuan sekolah. Kemudian Kaum mukminin yang di rahmati Allah Tadi pendidikan di sekolah yang disampaikan, mungkin kesalahan kita di situ.

Kemudian Pendidikan di rumah. Banyak juga kesalahan kita, misalnya kita biarkan anak-anak kita nonton tanpa sensor, kalau pemerintah tidak bisa menyensor kita sebagai orang tua bisa, kita tahu ini boleh dilihat, ini tidak boleh di lihat. Dia lihat pemandangan di telivisi anak SD sudah pacaran, di SMP bagaimana memperjuangkan cinta. Makin berat tantangan kita makin tinggi nilai pengorbanan kita itu yang Islam. Padahal Islam mengajarkan kita untuk hormat kepada orang tua, hormat kepada guru itu di atas segala-galanya setelah Allah dan Rasulnya.

Maka tugas kita di rumah adalah memang kita sensor tuntas tayangan-tayangan televisi, kalaupun kita tidak bisa mematikan 100 %, setidak-tidaknya adalah sensor yang demikian.

Kemudian kesalahan lagi yang kita lihat, Sekarang ini yang nampak bagi kita, dan yang sekarang ini yang akan mencegah yang akan menjadikan generasi-generasi berikutnya yaitu orang tua membiarkan anaknya pergi dengan lawan jenisnya yang tidak muhrim. “Biaso bana dek orang tuo muslim, biaso bana dek urang tuo mukmin anaknyo pai, antah kama-kama jo lawan jenisnyo, Sudah hilang perasaan di hatinya itu rasa bersalah besar, jangankan kesalahan besar kesalahan kecilpun mungkin tidak ada dan dianggap itu hal-hal yang biasa, padahal al-Qur’an melarang betul dan disuruh kita untuk menundukkan pandangan baik laki-laki maupun perempuan, sudah pasti dia tidak akan bias menundukkan pandangan ketiaka dia sudah berdua-dua dengan lawan jenisnya, Kalau dia sebelum masuk jenjang rumah tangga, jenjang pernikahan dia telah pergi berdua-dua, kita bayangkan sebelum menikah saja dia sudah bias di bawa-bawa kemanapun nanti kalau sudah dia menikah 2 tahun, 3 tahun yang laki-laki murah curiga kepada yang perempuan “dia menganggap bahwa perempuan itu murahan karena sebelum nikah saja dia sudah mau dibawa-bawa” mudah setan itu masuk.

Ketika telah masuk ke jenjang pernikahan “setan akan menggoda “mungkin tidak istri saya pergi dengan orang lain, setan akan mempengaruhi. Begitu sebaliknya yang perempuan curiga dengan yang laki-laki, jadi sebelum menikah setan akan masuk ke laki-laki yang akan menikah itu dan akan mempengaruhinya. Setelah masuk pernikahan setan lain pula metode dan strateginya “pai ndak urang rumah wak pai jo urang lain, mungkin tunyoh sedang dulu se wak baok-baok namuah nyo a beda nyo jo kini, makanya kalau Islam di amalkan akan hilang kecemburuan dan dia akan berkata “tidak akan mungkin suami saya pergi dulu sebelum menikah dia tetap menjaga syari’ah Islam.

Jadi kesalahan kita yang pertama tadi di sekolah kita biarkan anak kita bergaul dengan teman laki-laki yang tidak muhrim,

kesalahan di rumah kita biarkan anak kita nonton seenak –enaknya kemudian kita biarkan dia pergi kemana-mana kemudian kesalahan kita yang lebih fatal kaum mukminin hanya karena alasan ekonomi kita menunda pernikahan anak kita.

Kita ingat bahwa dalam Islam tidak ada istilah remaja, istilah remaja itu orang kafir yang membuat, istilah ABG itu orang kafir yang membuat, dalam Islam yang ada anak-anak kemudian Dewasa. Kalau sudah baligh dia sudah dewasa boleh dia menikah Cuma karena ada istilah remaja, ada istilah ABG sehingga posisinya dia ragu, saya bukan anak-anak lagi Cuma saya belum besar, di kasih tanggungjawab pun tidak bisa karena dia belum besar di katakan anak-anak bukan.

Begitu besarnya usaha orang kafir mempengaruhi orang Islam, sehingga ada juga ABG, remaja, dalam Islam itu tidak ada. Anak-anak, kemudian dewasa dia sudah boleh menikah, jadi kalau sudah tamat SMA anak-anak kita dan sudah Nampak bagi kita bagaimana sikapnya terhadap lawan jenisnya dan tidak bisa di larang, kemudian dipanggil anak tersebut dan suruh dia untuk menikah. Jangan kita biar dia pergi kemana-mana dengan lawan jenis tanpa ada ikatan pernikahan sebab anaknya nanti akan menjadi cucu kita. Allah telah katakana bahwa generasi yang akan dating itu lebih buruk dari dari generasi sekarang’. Sebelum dia menikah sudah itu dia kerjakan, bagaimana pula dengan anaknya nanti. Itu menjadi tanggungjawab kita sebagai orang tua dan jangan menganggap bahwa itu bukan urusan kita. Jadi berniat betul kita, hati-hati betul kita jan alasan ekonomi anak-anak kita tidak kita nikahkan. Misalnya anak kita mengatakan “ mak ambo lah ado calon mak, nikah ambo lai mak, yo pitih alun ado, kumpua-kumpua pitih lu dih, lah takumpua pitih banyak baru baralek.

Padahal al-Qur’an mengatakan bukan uang itu tiangnya bahkan ado mahar al-fatihah saja boleh oleh Nabi Kita. Aku nikahkan engkau dengan mahar alfatihah, kemudian baca al-fatihah itu dan ada saksi dua orang itu sudah sah. Tidak perlu ditunggu baralek gadang. Jadi kamu mukminin, kalau ada diantara kaum mukminin yang menunda pernikahan anak-anaknya karena uang tunggu lah azab Allah, doa wak minta ka Tuhan tidak di kabulkannya karena itu adalah kerja Allah, kalau kerja Allah yang kita kerjakan Insya Allah Allah akan membantu kita.

Ada satu lagi kaum mukminin yang parah di masyarakat kita yaitu tunangan. Kalau lah tunangan tu lah dianggap asmo jo nikah, kalau ado misalnya ado pai baduo-duo laki-laki dan perempuan, baba kok di padiakan se nyo, lah tunangan tu mah. Kalau sudah menikah baru boleh dia pergi berdua-dua, jadi kalau ada anak-anak kita yang tunangan jangan jauh jaraknya antara tunangan dengan pernikahan, kalau bisa 2 bulan dan kalau bisa kini tunangan kemudian tiga hari lagi menikah. Tunangan ini juga membawa malapetaka. Jadi kaum mukminin surat Maryam ayat 59 ini dimana Allah mengatakan “maka datanglah sesudah mereka pengganti yang jelek yang menyia-nyiakan shalat dan memperturutkan hawa nafsunya maka mereka kelak akan menemui kesesatan.

Dan langkah kita lakukan adalah bertaubat yang Allah jelaskan “kecuali orang-orang yang bertaubat” maka untuk itu kita bertuabat dengan mengakui kesalahan-kesalahan yang kita lakukan kemudian berjanji tidak mengulangi kesalahan, jadi baru dikatakan tidak sesat apabila telah pulang dari masjid in melarang anaknya pacaran dan mensegerakan anaknya untuk nikah, melarang anaknya nonton televisi, baru dikatakan tidak sesat dan taubat itu tidak mengulangi perbuatan kalau tidak seperti itu masih tergolong kepada yang sesat dan takut kalau dipanggil oleh Allah dalam keadaan sesat bagaimana nasib kita nanti di akhirat.

Jadi ayat 60 “kecuali orang-orang yang bertaubat, orang-orang yang beriman, orang-orang yang beramal shaleh maka mereka itu akan masuk surga dan tidak dianiaya sedikitpun. Fa’tabiru Ya ulil Absar La’allakum Turhamun

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

MULAI SEKARANG

KUNJUNGI

KAMI DI SINI