Sabtu, 13 Desember 2008

IBADAH HAJI


IBADAH HAJI
Disampaikan Oleh:
H. ZULHENDRI. ZK. IS
Khotbah Jumat di Masjid Iman Ketaping Lolong Padang
Jumat : 6 januari 2006 M – 6 Zulhijjah 1426 H


Artinya : Padanya terdapat tanda-tanda yang nyata, (di antaranya) maqam Ibrahim; barang siapa memasukinya (Baitullah itu) menjadi amanlah dia; mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah; Barang siapa mengingkari (kewajiban haji), maka sesungguhnya Allah Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam.(Q.S. Ali Imran:97)

Kita bersyukur kepada Allah SWT karena Allah masih memberikan kesempatan kepada kita untuk hidup di dunia ini, maka kita gunakanlah sisa-sisa kehidupan ini untuk benar-benar beribadah kepada Allah. Karena tujuan penciptaan kita diadakan didunia ini adalah untuk beribadah kepada Allah. Kita syukuri dan pastikan kita bertaqwa sebelum kita tinggalkan dunia ini.
Jarak antara kehidupan dan kematian tipis sekali. Kita baru saksikan, saudara-saudara kita ditanah Jawa diuji oleh Allah dengan banjir bandang dan tanah longsor yang menelan korban begitu banyak. Dan pastinya mereka tidak mengetahui bahwa ajal mereka begitu cepatnya, dan jelas bagi kita bahwa Allah telah punya ketentuan dan ketentuan Allah tidak bisa diubah-ubah. Kalaulah mereka mengetahui bahwa akan adanya banjir atau tanah longsor, pasti Walikota/Bupati yang ada disitu akan mengadakan gladi resik seperti yang kita lakukan disini.
Kita dihantui oleh paranormal yang justru tinggal dan menetap di tanah Jawa. Paranormal mengatakan bahwa Sumatera akan gempa dan akan mengalami bahaya besar, dan bahaya itu fokus ada di Padang. Kejadian ini mengakibatkan para investor tidak jadi menanam investasinya disini, sehingga walikota kepayahan karena para investor sudah meninggalkan kota Padang. Kalau memang paranormal itu benar tentang kejadian ini tentu pihak BMG Jakarta akan memberi sinyal kepada Walikota yang ada didaerah yang terkena banjir tesebut. Jadi jelas bagi kita bahwa kematian itu datangnya seketika. Kita tidak tahu kapan ajal itu menjemput. Seperti yang baru saja terjadi, kita lihat diberita runtuhnya hotel di Mekah dimana jemaah haji menginap, yang mengakibatkan puluhan orang meninggal di tanah suci. Walaupun ditanah suci tapi kalau memang kehendak Allah maka ajal akan menjemput kita disana.
Disini dalam surat Ali Imran ayat 97, Allah mengatakan orang yang berada di Baitullah akan dijamin keamanannya tapi orang yang berada diluar baitullah saja dengan tempat lain. Maka bersyukurlah orang yang berangkat haji dengan niat yang ikhlas karena Allah, kemudian meninggal disana, ia akan menemui Allah dengan menjadi haji yang mabrur walaupun belum mengerjakan wukuf di Arafah. Balasannya adalah surga Allah.
Untuk itu kita hidup didunia, niatkan segala sesuatunya karena Allah. Kita datang kemesjid untuk shalat jumat bukan karena melihat orang berbondong-bondong datang kesini, tapi karena ini adalah memang kewajiban kita dan niatkan ini karena Allah. Mungkin saja ketika diperjalanan menuju mesjid, kita ditabrak mobil hingga meninggal dunia atau kena serangan jantung kemudian meninggal, sedangkan niat kita melangkahkan kaki karena menuju ridho Allah, maka kita meninggal dalam keadaan mati syahid.
Sekarang ini kita berada dalam bulan Zulhijjah, tepatnya 6 Zulhijjah. Ada dua peristiwa penting yang dialami oleh umat islam dalam bulan ini. Pertama yaitu ibadah haji dan kedua ibadah qurban. Diwaktu khutbah yang singkat ini, kita bicarakan sedikit tentang perjalanan ibadah haji.
Bagi kita-kita yang baru pulang berhaji, ikhtibar kembali sejauh mana nilai-nilai haji itu telah kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari dan bermasyarakat. Dan bagi kita yang belum diizinkan Allah untuk ketanah suci, setidak-tidaknya kita tiru prilaku haji yang mabrur itu seperti apa. Karena haji yang mabrur itu balasannya adalah surga dari Allah SWT.
Bagi orang yang melaksanakan ibadah haji, pertama-tama yang dilakukan adalah memasang niat. Dan niat itu dipasang ketika berada di Miqat. Miqat adalah batas tempat untuk memulai niat melaksanakan ibadah haji. Maka pada saat itu jemaah meninggalkan pakaian kebesarannya dan diganti dengan pakaian ihram. Disitu nampak bagi kita bahwa semua umat islam sama dimata Allah, bedanya hanyalah taqwanya.
Kita lihat sekarang ini, pak haji-pak haji yang baru pulang dari tanah suci, apakah masih sama memandang manusia lain ketika berihram atau bangga dengan pangkatnya, kekayaannya? Jika ada saja sedikit hal itu dihatinya, berarti tidak tertanam haji mabrurnya itu dan diragukan haji mabrurnya. Untuk itu bagi yang telah berhaji dan masih bangga akan dirinya, segeralah bertobat karena untuk ke tanah suci telah banyak pengorbanan yang kita lakukan, biaya mahal, telah meninggalkan keluarga selama 40 hari. Jangan kita biarkan rayuan syaitan merasuki kita. Dan bagi yang belum berhaji, juga kita implementasikan apa yang telah dibuat saudara kita yang telah berhaji.
Kemudian, ketika kita telah memasang niat, memakai baju ihram, untuk menuju ke Baitullah jemaah membaca Talbiah, LABAIKAULLAHUMMA LABAIK-LABAIK KALA SARIKALAKALABAIK. INNAL HAMDA WANIAKMATA LAKAWAL MULK LASIRA KALA, Kami datang ya Allah, kami datang ya Allah, kami datang, kami datang menyeru panggilanMu ya Allah, segala puji bagi-Mu ya Allah, segala nikmat-Mu bagi-Mu ya Allah, segala kuasa ada padaMu ya Allah dan tidak ada syarikat bagi-Mu ya Allah. Inlah yang kita ucapkan. Kadang-kadang banyak jemaah yang menangis ketika membaca ini, karena begitu terharu dekatnya dia dengan Allah SWT.
Kita lihat sekarang ini, kenyataan jemaah haji yang dihasilkan dari Indonesia begitu banyaknya, tapi kalau azan berkumandang tidak nampak lagi yang “aku datang ya Allah, aku datang ya Allah”. Dilihat dari data statistik di Depag bahwa sampai setiap RT pasti ada yang sudah haji. Khusus di Sumbar dalam 20 orang ada 1 orang yang sudah haji. Tapi kalau azan, kita lihat pak haji-pak haji masih sibuk dengan kegiatannya. Dari itulah, dalam kesempatan ini bagi kita yang telah berhaji, kembalilah pada seruan Allah. Dan bagi kita yang laki-laki, wajib hukumnya shalat berjamaah. Ketika Nabi shalat di Mesjid, dia memperhatikan para sahabat yang tidak hadir, lalu Nabi menyuruh orang untuk memanggil sahabat tersebut. Jika dia tidak mau datang kemesjid maka Nabi akan membakar rumahnya. Begitu tingginya nilai shalat di mesjid. Kalau masjid jauh dari rumah maka setidaknya kita shalat berjamaah di rumah, paling tidak kita shalat jamaah walau hanya ada 2 orang. Maka bagi yang sudah berhaji, marilah sama-sama shalat kemesjid, meramaikan mesjid. Dan bagi yang belum berhaji, amalkan juga untuk meramaikan mesjid.
Kemudian setelah kita sampai ke Baitullah dan membaca talbiah, ketika sampai di Ka’bah kita melakukan tawaf mengelilingi ka’bah. Tawaf artinya larut. Jadi jemaah betul-betul larut dalam kekhusukkan ibadah kepada Allah. Setelah tawaf, jemaah langsung mengerjakan ibadah Sa’i. nampak bagi kita bahwa umat islam itu begitu bersemangat. Dulu pernah seseorang begitu khusuk shalat dimesjid selama 3 hari tidak keluar-keluar. Lalu Rasulullah bertanya, siapa yang mengantarkan makanannya? Sahabat menjawab, istrinya wahai Rasulullah. Rasul menjawab, istrinyalah yang masuk surga, dia tidak. Karena orang islam adalah pekerja keras, bukan bermalas-malasan.
Sa’i artinya usaha. Jemaah haji melakukan sa’i dari safa lalu ke marwa. Safa artinya bersih dan marwa artinya ridho. Jadi jemaah haji yang sudah kembali haruslah melakukan suatu usaha dimulai dengan yang bersih dan apapun hasil usahanya, dia ridho atas apa yang diberi Allah. Kita rasakanlah bagi yang sudah berhaji, apakah kita telah melakukan usaha yang bersih dan halal. Bahwa tugas kita adalah berusaha dan hasilnya sepenuhnya kita serahkan pada Allah SWT. Kita lihat ketika Siti Hajar bolak balik antara safa dan marwa mencari air zam-zam. Setelah sampai tujuh kali bolak balik ke safa dan marwa, justru air zam-zam keluar dari kaki Ismail yang letaknya bukan disafa dan marwa. Makanya kita lihat bahwa hasilnya kita serahkan pada Allah. Umat islam adalah umat yang selalu berusaha. Tidak ada tangan yang berada di bawah, tapi selalu diatas. Kalau tidak terpaksa sekali janganlah kita jadi peminta-minta.
Setelah kita melaksanakan sa’i, jemaah akan melempar jumrah yang artinya melempar setan, baik setan dalam bentuk sebenarnya ataupun sifat setan yang ada pada diri kita. Disini nampak bagi kita untuk melakukan perlawanan dengan setan memang harus ada upaya dan usaha dari kita, seperti digambarkan dengan diawali mencari alat pelempar syaitan kemudian baru melempar syaitan. Bagi pak haji-pak haji di tanah air, kita harus berusaha berjuang melawan setan ketika azan berkumandang.
Puncak dari haji adalah wukuf di arafah. Wukuf artinya dekat/kenal. Disitu memang kita benar-benar mendekatkan diri kepada Allah, kenal dengan diri sendiri. Allah ingatkan kita tentang apa yang telah kita lalui selama ini, maka banyak yang menangis terharu, minta ampun pada Allah SWT. Memang padang arafah merupakan miniatur dar padang masyar, karena di padang masyar juga akan terekam semua perbuatan kita didunia. Cuma bedanya kalau dipadang masyar kita menangis dan menyesal tidak ada artinya, sedangkan di padang arafah kita menangis dan menyesal masih ada harapan untuk memperbaiki karena kita masih didunia. Jadi bagi pak haji-pak haji janganlah mengulang-mengulang dosa. Jangan seperti anggapan orang kristiani yang mengatakan bahwa ke Mekah itu untuk penghapusan dosa, jangan coba-coba berbuat dosa.

إِنَّا أَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَرَ(1)فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ(2)إِنَّ شَانِئَكَ هُوَ الْأَبْت
Artinya : Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak. Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu dan berkorbanlah. Sesungguhnya orang-orang yang membenci kamu dialah yang terputus.
(Q.S. Al Kautsar:1-3)

Allah mengatakan, siapapun kita adalah orang-orang yang telah. Untuk itu Allah suruh kita untuk menunaikan shalat, Allah suruh kita berqurban. Nikmat yang diberikan oleh Allah berupa nikmat materi dan non materi. Nikmat materi berupa harta kekayaan dan non materi berupa kekuatan, ilmu dan sebagainya. Bagi yang memiliki itu marilah kita segera berqurban, memberikan sedikit harta kita. Kalau kita tanamkan ini kepada anak-anak kita, mereka akan senang berqurban dan kitapun lepas dari kewajiban.
Kemudian bagi kita yang diberi tenaga oleh Allah SWT tapi kurang rezeki, marilah kita meramaikan suasana qurban. Kita sebagai panitia qurban atau sebagai pekerja dalam menyembelih qurban jangan sampai tenaga yang ada, kita salah gunakan dalam ibadah qurban dengan mengambil/ memakan yang bukan hak kita.
Mudah-mudahan kita termasuk orang yang mau berkurban karena kita lihat pengertian ayat tersebut, kita memang diperintah untuk berkurban.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

MULAI SEKARANG

KUNJUNGI

KAMI DI SINI